Jajanan Malang: Rasa Tradisi yang Tak Pernah Lekang oleh Waktu

1. Suasana Kuliner yang Hidup di Setiap Sudut Kota
Berjalan di Jalan Basuki Rahmat atau kawasan Ijen di pagi
hari, kamu akan mendengar suara pedagang yang menawarkan jajanan hangat seperti
lumpia basah, cakwe, atau serabi. Di sore hari, kawasan
alun-alun berubah menjadi surga jajanan kaki lima: ada cilok goang, tahu
walik, dan angkringan kopi jos yang ramai dikerumuni pembeli.
Ciri khas jajanan di Malang adalah kesederhanaannya. Makanan
di sini tidak hanya soal rasa, tapi juga pengalaman: menikmati sepiring tempe
mendoan sambil melihat kabut tipis turun dari pegunungan adalah kenikmatan
sederhana yang sulit ditandingi.
2. Jajanan Tradisional yang Melegenda
Sebagian besar jajanan khas Malang berakar dari resep lama
yang diwariskan turun-temurun. Misalnya, onde-onde ketawa yang sering
muncul di pasar-pasar tradisional. Bentuknya kecil dan lucu, dengan kulit
renyah dan biji wijen yang gurih. Ada juga cucur gula merah, jajanan
yang lembut dengan aroma manis yang khas, biasanya dijajakan oleh ibu-ibu di
depan sekolah atau di pinggir jalan kampung.
Tak ketinggalan lupis ketan, yang disiram gula merah
cair dan taburan kelapa parut. Teksturnya lembut, rasanya manis-gurih, dan
selalu membawa nostalgia masa kecil. Banyak warga Malang yang mengenang jajanan
ini sebagai camilan favorit saat pulang sekolah.
3. Inovasi Jajanan Modern dengan Cita Rasa Lokal
Meski tradisi kuat melekat, jajanan Malang juga berkembang
mengikuti tren zaman. Kini banyak anak muda yang mengolah jajanan lama menjadi
sesuatu yang baru dan menarik. Contohnya pisang nugget khas Malang
dengan topping cokelat dan keju, atau cilok bakar isi mozarella yang
ramai di TikTok.
Beberapa kafe di Malang bahkan menjadikan jajanan
tradisional sebagai menu utama dengan tampilan modern. Misalnya, kue klepon
lava dengan isian gula aren cair yang meleleh saat digigit. Inovasi ini
bukan hanya menarik secara visual, tapi juga menjadi cara baru memperkenalkan
cita rasa khas Malang kepada generasi muda.
4. Cerita dari Pedagang: Antara Cita Rasa dan Perjuangan
Di balik setiap jajanan lezat, selalu ada kisah manusia yang
hangat. Salah satunya Bu Siti, penjual tempe mendol di Pasar Oro-Oro
Dowo. Ia sudah berjualan sejak tahun 1998. “Rahasia rasa mendol itu di bumbu.
Tempenya harus tempe kedelai murni, bukan campuran. Digoreng pun jangan terlalu
kering, biar lembut di dalam,” ujarnya sambil tersenyum.
Cerita serupa datang dari Pak Hadi, penjual cilok bumbu
kacang di sekitar Universitas Brawijaya. Ia mengaku banyak mahasiswa yang
menjadi pelanggan setia. “Banyak yang bilang cilok saya bikin kangen kampung
halaman. Padahal sederhana, cuma resep dari ibu saya dulu,” katanya.
Dari cerita-cerita seperti inilah jajanan Malang tidak hanya
menjadi makanan, tapi juga warisan budaya yang hidup dari tangan ke tangan.
5. Lokasi Favorit Berburu Jajanan Malang
Bagi yang ingin merasakan langsung beragam jajanan Malang,
berikut beberapa tempat yang layak kamu kunjungi:
- Pasar
Oro-Oro Dowo
Pasar ini sudah direvitalisasi menjadi pasar bersih dan nyaman. Di sini kamu bisa menemukan cucur, lupis, klepon, hingga onde-onde ketawa dalam satu tempat. - Alun-Alun
Kota Malang
Tempat nongkrong favorit keluarga dan anak muda. Di sekitar alun-alun, banyak pedagang kaki lima menjajakan tahu petis, roti bakar, hingga angsle hangat untuk malam yang dingin. - Kawasan
Soekarno-Hatta (Suhat)
Dikenal sebagai kawasan mahasiswa, di sini berjajar kuliner modern khas Malang seperti cireng isi keju, tahu krispi pedas, dan batagor gurih. - Kampung
Tempe Sanan
Kalau kamu penggemar tempe, jangan lewatkan kampung ini. Selain melihat proses pembuatan tempe, kamu juga bisa mencicipi keripik tempe Malang dengan berbagai varian rasa, dari original sampai balado.
6. Jajanan Malang yang Populer di Media Sosial
Beberapa jajanan khas Malang kini viral di media sosial. Bakso
bakar Pahlawan Trip misalnya, sudah banyak dikunjungi food vlogger karena
rasanya yang unik—perpaduan gurih pedas dengan aroma bakaran arang.
Ada juga cwie mie Malang versi mini yang disajikan dalam cup kecil,
cocok buat camilan. Dan jangan lupakan es santan kopyor yang kini jadi
primadona saat musim panas.
Kehadiran media sosial membuat jajanan lokal semakin dikenal
luas. Banyak wisatawan luar kota datang ke Malang hanya untuk mencoba makanan
yang mereka lihat di video pendek TikTok atau Instagram. Fenomena ini turut
membantu pedagang kecil meningkatkan pendapatan dan memperluas pasar mereka.
7. Pesona Jajanan Malang di Hati Wisatawan
Bagi banyak wisatawan, jajanan Malang bukan sekadar
camilan—melainkan pengalaman rasa yang membekas. Beberapa pengunjung bahkan
membawa pulang keripik tempe Sanan atau bakso kering sebagai
oleh-oleh. Ada pula yang merasa setiap gigitan jajanan di Malang membawa nuansa
nostalgia, seolah mengingatkan pada kampung halaman yang damai.
Seorang wisatawan asal Jakarta pernah menulis ulasan menarik
di media sosial:
“Saya pikir Malang cuma terkenal karena baksonya. Ternyata
jajanan tradisionalnya luar biasa. Dari klepon sampai angsle, semua punya cita
rasa dan cerita.”
Ungkapan itu menggambarkan betapa kuatnya pesona kuliner
Malang di hati para penikmatnya.
8. Warisan Rasa yang Patut Dijaga
Di tengah gempuran makanan modern dan waralaba asing, jajanan
Malang tetap bertahan karena keaslian rasanya dan cinta dari masyarakatnya.
Banyak komunitas kuliner lokal yang kini aktif mengangkat kembali resep-resep
tradisional agar tidak punah.
Langkah sederhana seperti membeli jajanan di pasar
tradisional atau mendukung UMKM kuliner lokal sudah menjadi bentuk nyata
pelestarian budaya kuliner. Karena sejatinya, setiap jajanan bukan hanya soal
rasa, tapi juga identitas dan kebanggaan sebuah daerah.